Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 22 October 2015


“Umi Zeehaq berangkat yaa.. assalamualaikum!” . “Iya nak, hati-hati. Semangat hari pertama nak!!”.

Hari ini hari pertama Zeehaq sekolah ditingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tetapi wajah cerianya pagi ini tak terlihat. Mungkin karena sekolah barunya bukanlah sekolah yang Ia impikan. Padahal Ia sudah diterima untuk melanjutkan di sekolah terfavorite di kotanya itu yang sangat Ia impikan.Tetapi apa daya, Umi zeehaq tak sanggup untuk menyekolahkannya, karena abi zeehaq sudah tiada, lantas uminya lah yang bekerja keras untuk anak semata wayangnya zeehaq tercinta.

Ketika dikelas, teman-temannya meledek zeehaq karena Ia tidak memiliki handphone Bahkan tertawa terbahak-bahak ketika mengetahui zeehaq berjalan kaki menuju sekolah. Tetapi zeehaq hanya tersenyum manis menanggapi semua itu. Tak lama kemudian guru mereka datang ke kelas dan menyuruh satu persatu maju kedepan untuk memperkenalkan dirinya. Dan tertanya di awal pelajaran ini adalah pelajaran bahasa inggris tentunya mereka harus memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa inggris. “Please, come forword to introduce yourself”. Kelas hening tak ada satupun yang ingin maju kedepan untuk memperkenalkan dirinya. Tak lama kemudian “ I am sir”. Zeehaq memberanikan diri untuk maju, teman-teman sekelasnya menertawakannya dengan amat puas. “Ssst.. keep silent please”. Mereka tetap saja brisik dan terus meledek zeehaq, mereka tak tau kalau zeehaq jago sekali dengan speech nya. Kemudian zeehaqpun mulai memperkenalkan diri dan ia juga sedikit menjelaskan tentang latar belakangnya, tetapi mereka kurang mengerti dengan apa yang dikatakan oleh zeehaq. “Sabar ya nak kamu pasti bisa, kamu pasti akan menjadi orang yang sukses” kata guru tersebut. “Thank you sir”. “Okee, tepuk tangan untuk zeehaq, kalian harus mencontoh zeehaq dia jago sekali dan dia juga berani. Kalian harus belajar dengan zeehaq anak-anak”. “Males banget pak, belajar sama anak kampungan kaya dia” cetus salah seorang teman zeehaq. Zeehaq hanya tersenyum dan ia berkata “never mind”. Bapakpun hanya tersenyum melihat prilaku anak-anak di kelas ini.

Sepulang sekolah, ia sengaja melewati jalan yang menuju ke sekolah impiannya. Terlihat dijalanan seorang anak yang sebaya dengannya membawa benda tajam, seragam yang berlumur darah, mereka berhamburan kesana kemari Zeehaq aneh melihatnya dan terus melanjutkan langkah demi langkah. Sampailah ia di depan gerbang sekolah impiannya dan terlihat semua pelajar di sekolah ini menggunakan mobil dan bukan sembarang mobil.

“Aku merasa aneh dengan sekolah” bisikinya.

Matahari pun berganti bulan, setelah Zeehaq melaksanakan sholat Isya’, seperti biasa ia membuka buku pelajaran. Tetapi, untuk malam ini ia malah mengambil selembar kertas putih dan mulai menggoreskan tinta pada kertas putih itu.

“Ada apa dengan kotaku ini? Atau bahkan ada apa dengan negriku ini, yang aku tahu sekolah itu hanya untuk menimba ilmu dan menuntun kita menjadi orang yang sukses. Kenapa sekarang menjadi tempat sebagai ajang pertunjukkan harta, tempat pacaran, tempat untuk saling meledek. Bahkan bukan ilmu yang mereka dapat sepulang sekolah melainkan luka-luka, kebencian, dan penghinaan. Apa penyebab yang membuat mereka sampai tawuran sesama pelajar seperti itu?, seharusnya kita harus bersyukur karena Indonesia tidak di jajah lagi. Mengapa sekarang sesama warga Indonesia, bahkan pelajar melakukan hal itu? Bagaimana Indonesia menjadi developed country jika generasi penerusnya seperti itu? Bagaimana kita menyusul Amerika, Singapur, Jepang dan lainnya? Kapan kita akan menyusul mereka ? aah, entahlah. Aku bersyukur Umi menolakku untuk ke sekolah favorite. Walau sekolah ku biasa saja, aku bersyukur aku juga bersyukur teman sekelasku meledeku seperti itu, terbayang jika aku duduk di kelas bersama orang-orang seperti yang aku lihat tadi siang. Padahal mereka adalah seorang siswa dari sekolah terfavorite dikotaku ini.

Mungkin jika aku berada disana aku akan merasa kecil sekali, selain mereka orang-orang ber-otak mereka juga ber-uang. Aku juga bersyukur karena teman sebangku ku sama sepertiku kita hidup pas-pasan tapi kita yakin suatu saat nanti kita akan sukses, kata umi semua itu akan kembali pada diri kita masing-masing, jika kita rajin kita berhak sekali menerima kesuksesan dan kebahagian. Tapi sebaliknya jika kita tidak mau berusaha dan kita malas kita berhak sekali menerima kesusahan.

Aku berharap suatu saat nanti negeriku tak akan menjadi kacau atau lebih kacau. Aku berharap semua yang aku lihat siang hari tadi tak akan berkepanjangan sampai generasi-generasi berikutnya. Amiin..”

“Semalam kamu menulis apa nak ? umi baca loh”. “e.. eng .. enggak umi” . “Nak, semua sekolah itu sama tidak ada yang terbaik atupun terburuk. Sekarang kamu paham kan ? Umi harap kamu bisa memajukan sekolah yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, umi percaya zeehaq. Zeehaq anak umi yang baik dan berprestasi bukan zeehaq yang selalu mengeluh. Umi yakin kamu pasti sukses, abi pasti bangga denganmu nak”.

Zeehaqpun mengerti inti dari tragedi di hari kemarin dan ia pun bangkit lagi untuk menjadikan dirinya baik juga sekolahnya. Dan dia tak akan memperdulikan apa yang dikatan oleh teman-temannya tentang latar belakang ia. Zeehaq hanya bisa bersyukur atas apa yang diberi oleh Allah pada dirinya.

by: Indi Qotrunada - Member of JSC

Saturday, 27 June 2015

“Lambaian Bola Matamu”

Cerpen oleh : Salma Noer Baety

Sukabumi, 18 November 2010
“Ra, Tsani dipanggil sama bagian keamanan, dia ketahuan kabur lagi” teriakan itu menggema dari ujung asrama Halimah Sa’diyah. Suaranya menyelinap ke setiap celah kamar santri, memecah heningnya senja. Spontan ku lemparkan sapu yang tengah ku pegang. Tak peduli di belakangku ada orang ataupun tidak. Terlihat semua penghuni asrama menoleh ke luar, menatap tajam ke arahku ketika ku berjalan. Mereka saling berbisik di hadapanku. Sorot mata mereka terus membuntutiku.“Ya Allah, dia bikin ulah apa lagi coba?” batinku menggerutu.

“Ra, tadi ana disuruh ngasih tahu ke kamu katanya Tsani terancam di keluarkan dari pesantren. Pelanggarannya udah berat banget.” kalimat itu seolah menjadi sambutan selamat datang bagiku. Begitu cepat melesat bagai panah yang baru saja dilepas, menancap tepat di titik sasaran. Bak petir yang memecah langit kelabu kala itu.

“Masya Allah, dia ngelanggar apa lagi? Gak ada keringanan lagi buat Tsani?” mulutku bergetar tak kuasa menanyakan keadaan Tsani. “Gak ada, ra. Dewan guru udah ngambil keputusan kalau Tsani harus di keluarin dari pesantren dan berhenti sekolah juga.” Erika nampak tak tega menyampaikan hal ini padaku. Dia paham betul apa yang selama ini ku rasakan.

Ada yang jatuh dari pelupuk mataku hingga membasahi pipi ini. Batinku menjerit mendengarnya, bak tertusuk duri yang amat tajam. Tak sempat aku melepaskannya. Kakiku terus melangkah meninggalkan sosok Erika yang masih berdiri tegap. Dia menatapku begitu dalam, binar matanya seperti ingin menyampaikan sesuatu yang telah ia pendam. Maaf, tapi aku tak terlalu menghiraukanmu. Aku tak kuasa membendung seluruh isi hati, semuanya ku tumpahkan bersama angin yang menerpa ketika ku berlari. Bukan aku tak sayang padamu, tapi kini ada seorang yang tengah menanti kehadiranku.

***Bersambung***

Today

Let's Join Us - Journalits For Student 7

SYARAT DAN KETENTUAN PESERTA JFS VII Syarat dan ketentuan umum • Peserta ialah pelajar tingkat SMP sederajat dan SMA sederajat se-Kab...

Tags

Supported by

Ricahyap

Contact us

Name

Email *

Message *